Berbicara
mengenai pendidikan anak, tidak akan lepas dari tiga lingkungan
pendidikan, yaitu keluarga, masyarakat, dan sekolah. Ketiga lingkungan
tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar pada kepribadian dan
pengetahuan anak. Di dalam keluarga, anak belajar pada apa yang
dikatakan dan dilakukan oleh orang tua. Di masyarakat, anak belajar pada
kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh teman-teman bermain dan
tetangga sekitarnya. Sedangkan di sekolah, anak belajar pada guru dan
teman-teman satu sekolahnya. Dari ketiga lingkungan inilah anak belajar
melalui proses-proses interaksi secara langsung dengan para pendidiknya.
Di abad ke 21 ini, ada satu lagi lingkungan yang menjadi tempat belajar bagi anak. Lingkunga tersebut adalah media masa.
Media masa bisa berupa koran, majalah, radio, dan televis. Dari sekian
banyak media masa, yang paling sering digunakan oleh anak dalam belajar
adalah televisi, karena televisi menggunakan perpaduan audio dan visual
yang tentu saja lebih menarik bagi anak. Selain itu, televisi juga
menyediakan berbagai tontonan yang sangat disukai oleh anak-anak,
seperti film kartun, sinetron anak, kuis, lagu-lagu, dan lain
sebagainya.
Melihat
minat anak yang sangat besar utuk menonton acara televisi, para pemilik
stasiun televisi, para produser, sutradara, artis, dan para pelaku lain
yang terlibat dalam penyiaran televisi seharusnya menjadi fasilitator
bagi anak dalam menyediakan tayangan-tayangan yang mendukung bagi proses
belajar anak. Misalnya jika ingin membuat sinetron ataupun film, para
produser dan sutradara seharusnya mempertimbangkan nilai-nilai
pendidikan anak, seperti nilai moral, pengetahuan, dan keterampilan yang
diperlukan oleh anak. Jika semua pihak di belakang layar televisi
memperhatikan hal ini, maka bisa dibayangkan berapa banyak anak
Indonesia yang mendapatkan ilmu-ilmu baru dari menonton televisi dan itu
merupakan kontribusi yang sangat berarti dalam rangkan mencerdaskan
kehidupan bangsa seperti yang telah diamanatkan Pembukaan UUD 1945.
Namun realita menunjukkan bahwa para pelaku penyiaran di belakang layar televisi kurang
mempedulikan nilai-nilai pendidikan bagi anak. Kebanyakan dari mereka
hanya berorientasi pada ekonomi, asal mendapatkan untung apapun
dilakukan, termasuk menhilangkan nilai-nilai pendidikan anak. Hal ini
tampak jelas dalam berbagai acara televisi yang sebenarnya ditujukan
untuk anak-anak, namun nilai-nilai pendidikannya sangat sedikit dan
justru lebih banyak unsur hiburannya.
Misalnya
ada film yang banyak memakai artis cilik sebagai pemeran tokohnya,
tujuannya adalah menanamkan nilaki-niilai keimanan dan akhlak mulia pada
diri anak dengan mengaktualisasikan ajaran islam dalam bidang olahraga
atau kehidupan sehari-hari lainnya. Namun yang ditangkap oleh anak
justru bukan nilai-nilai iman dan akhlak mulianya, melainkan
keajaiban-keajaiban yang tidak masuk akal dan kata-kata aneh yang
diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan karena unsur
hiburan yang lebih mendominasi daripada nilai-nilai pendidikannya.
Selain
acara tersebut, ada acara televisi lain yang lebih parah. Misalnya ada
acara televisi yang hanya berisi lagu-lagu dengan lirik-lirik yang tidak
mindidik, tarian-tarian yang tidak jelas dan jauh dari nilai-nilai
kesopanan, lawakan-lawakan yang cenderung kasar dan kotor, dan
unsur-unsur lain yang sama sekali tidak memperhatikan norma agama dan
sosial, serta jauh dari nilai-nilai pendidikan.
Jika
acara-acara tidak bermutu tersebut terus dibiarkan beredar di
masyarakat, maka dampak negatifnya bisa sangat berbahaya bagi generasi
muda Indonesia. Anaka-ana yang tidak mendapatkan pendidikan akhlak yang
cukup, maka masa depannya akan menjadi anak muda yang tidak memiliki
budi pekerti yang luhur. Di usia produktifnya nanti, mereka justru hanya
menjadi pemuda yang konsumtif. Mereka akan menjadi pemuda yang hanya
suka berfoya-foya dan bersenang-senagn tanpa batas sampai melalaikan
kewajiban mereka pada keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Dampak
negatif tersebut akan menimpa tiap individu anak yang suka mengkonsumsi
tontonan televisi yang tidak berkualitas. Lalu, jka dampak tersebut
menimpa setiap individu anak, maka kita bisa membayangkan berapa banyak
indonesia akan kehilangan generasi muda yang berkualitas di masa
mendatang. Oleh karena itu, ini bukanlah persoalan kecil, ini adalah
bencana nasional karena taruhannya adalah generasi muda Indonesia.
Melihat
fenomena yang demikian memprihatinkan, maka perlu upaya serius dari
semua pihak untuk menyelamatkan anak-ana Indonesia. Pihak pertama yang
paling bertanggung jawab adalah orang tua si anak. Memang tidak
bijaksana dengan melarang anak menonton televisi, tapi yang lebih tepat
adalah mengontrol apa yang ditonton anak di televisi. Dampingi anak-anak
saat menonton televisi . Pilihkan acara-acara yang benyak menyampaikan
nilai-nilai agama dan menambah wawasan anak. Pihak kedua yang
bertanggung jawab adalah pemerintah. Mereka harus merumuskan
syarat-syarat acara televisi yang boleh tayang adalah acara-acara yang
mengedepankan nilai-nilai pendidikan dan menambah informasi yang
bermanfaat bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Pemerintah juga harus
berani menegur, menghentikan, bahkan memberi sanksi kepada pihak-pihak
yang menayangkan acara-acara yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut.
Lalu
pihak ketiga yang paling bertanggung jawab adalah mereka yang terlibat
dalam produksi acara-acara televisi yang tidak berkualitas tersebut.
Pihak-pihak tersebut adalah pemilik stasiun televisi, produser,
sutradara, para artis, dan pihak-pihak lain yang terlibat secara
langsung maupun tidak langsung. Mereka harus dengan penuh kesadaran
menghentikan acara-acara televisi yang telah mereka buat demi pendidikan
untuk anak-anak dan generasi muda bangsa. Lalu dalam membuat acara
selanjutnya, mereka juga harus mau membuat acara televisi yang labih
mengedepankan nilai-nilai akhlak mulia, menambah pengetahuan dan
informasi, khususnya bagi anak-anak Indonesia. Dengan kesadaran
bertanggung jawab terhadap pendidikan anak dan generasi muda dari semua
pihak, maka pembangunan kualitas sumber daya manusia akan semakin lancar
dan mencapai tujuan yang diharapkan.

0 Response to "Televisi dan Pendidikan Anak"
Posting Komentar