Lima belas abad
yang lalu bangsa arab masih berada dalam kegelapan jahiliya. Kemusyrikan,
kemaksiatan, kebiadaban, dan kemungkaran, semua dilakukan oleh keum kafir
Quraisy. Paham paganisme menyebar luas, pelecehan dan pembunuhan terhadap kaum
wanita terjadi dimana-mana, perjudian dan praktik ramal-meramal selalu terjadi
setiap hari. Perbuatan-perbuatan biadab tersebut terus terjadi hingga awal abad
ketujuh masehi.
Pada awal tahun
enam ratusan, bangsa arab seperti mendapat secercah cahaya terang. Telah datang
seorang manusia pilihan Allah yang akan membawa bangsa arab dan seluruh dunia
menuju cahaya yang terang benderang. Dialah Muhammad, dialah Rasul Allah yang
terakhir, Nabi penutup para Nabi. Dialah manusia paling mulia di dunia ini yang
membawa risalah Allah berwujud kitab suci Al Qur’an yang akan membawa dunia
menuju perubahan besar di masa depan.
Pada masa dakwahnya
di Mekah, ujian demi ujian harus dia rasakan, tantangan demi tantangan dari
kaum kafir Quraisy harus dia hadapi, padahal waktu itu kekuatan dakwahnya masih
sangat lemah, belum cukup untuk menghadapi serangan-serangan fisik dari kaum
kafir Qurays. Cacian, hinaan, ancaman, kekerasan, bahkan sampai hampir dibunuh
pernah ia alami semuanya. Hijrah ke Habasyah dan beberapa negeri lainnya harus
dia lakukan demi mencari perlindungan sekaligus memperluas wilayah dakwahnya.
Sampai akhirnya hijrah ke Yatsrib menjadi solusi dari berbagai hambatan
dakwahnya di Mekah.
Yatsrin (Madinah)
menjadi kota yang cukup nyaman untuk berdakwah menyebarkan ajaran Islam. Sambutan
dari kaum Ansar terhadap kaum Muhajirin sangatlah hagat. Kaum Ansar dan kaum
Muhajirin menjalin suatu bangunan persatuan yang sangat kokoh sehingga dakwah
Islam berkembang dengan pesat.
Namun di balik
semua perkembangan dakwah tersebut, ujian memang selalu datang. Jika di Mekah
Rasulullah berhadapan dengan kaum kafir Quraisy, maka di Madinah berhadapan
dengan orang-orang munafik Yahudi. Serangan-serangan dari orang-orang Yahudi
tidak kalah gencarnya dari orang-orang kafir Quraisy, bahkan lebih besar lagi.
Penghianatan terhadap Piagam Madinah, ingin membunuh Rasulullah, memecah belah
umat Islam, sampai bersekutu dengan kaum musyrikin Mekah mereka lakukan untuk
menghancurkan kaum muslimin Madinah. Namun semua upaya itu gagal, orang-orang
kafir Quraisy dan orang-orang Yahudi tetap tidak mampu untuk umat islam karena
umat Islam Madinah selalu setia berpegang kepada huku-hukum Allah dan
sunnah-sunnah Rasulullah, serta mereka selalu berada dalam persatuan dan
kesatuan yang kokoh.
Ketika kita
sekarang membaca kembai sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw tersebut, rasanya
kita rindu dengan sosok beliau yang begitu gigih memperjuangkan kesejahteraan umat di jalan Allah. Sebagai
seorang pemimpin, beliau benar-benar sosok yang sangat menyayangi umatnya
hingga beliau rela berkorban harta bahkan nyawa demi kesejahteraan dan
ketenteraman umatnya di jalan Allah. Sosok seperti beliaulah yang selalu kita
idam-idamkan menjadi pemimpin bangsa kita saat ini.
Namun, harapan dan
realita sungguh berbanding terbalik. Ketika kita mengidamkan pemimpin seperti
sosok Rasulullah, justru yang kita temui adalah para pemimpin bangsa yang
memikirkan kesejahteraan dirinya dan golongannya masing-masing. Di saat mereka
mengemban amanah besar untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan menyelamatkan
rakyat dari kemiskinan harta dan kemiskinan akhlak, justru mereka seakan-akan
berlomba untuk mengkorup uang rakyat, membohongi rakyat, menghianati
kepercayaan rakyat, dan meninggalkan rakyat dalam keadaaan mengenaskan. Betapa
banyak pejabat yang tertangkap KPK, betapa banyak pejabat yang tidak menepati
janji kampanyenya, dan betapa banyak pejabat yang membuat aturan untuk
keuntungan mereka sendiri. Sungguh-sungguh jauh dari akhlak yang ditunjukkan
oleh Rasulullah saw.
Memang tidak akan
ada manusia yang dapat menyerupai akhlak Rasulullah, namun tentu kita berharap
jika tidak bisa seratus persen sama, paling tidak empat puluh atau lima puluh
persen saja bisa meneladani akhlak Rasulullah saw. Sebaga seorang muslim, para
pemimpin muslim di negara kita tentu tahu bahwa Rasulullah saw adalah teladan
terbaik, namun tidak banyak dari mereka yang benar-benar mempelajari akhlak
Rasulullah saw, apalagi menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan
sehari-hari.
Oleh karena itu,
sudah menjadi kewajiban sesama muslim untuk saling mengingatkan dalam
kebenaran, mengingatkan diri sendiri dan mereka yang duduk di kursi
kepemimpinan bahwa Rasulullah saw adalah teladan terbaik sepanjang masa, dialah
manusia terbaik pilihan Allah yang diutus sebagai uswah hasanah bagi seluruh
umat manusia, maka dari itu marilah kita semua selalu menjadikan Rasulullah saw
sebagai teladan kita dalam menjalani kehidupan sampai akhir hayat nanti.

0 Response to "Rasulullah Pemimpin Idaman"
Posting Komentar